PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS PAULO FREIRE DAN RELEVANSINYA BAGI MADRASAH

Paulo Freire, seorang pendidik, filsuf, dan pemikir asal Brasil yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia pendidikan kritis. Gagasan Paulo Freire tentang pendidikan sebagai alat pembebasan terasa semakin penting ketika kita melihat realitas pendidikan di madrasah. Melalui karyanya Pedagogy of the Oppressed, Freire menegaskan bahwa pendidikan tidak pernah netral: ia bisa menjadi sarana pembebasan atau justru alat yang secara halus melanggengkan penindasan.

Dalam konteks madrasah, saya melihat ada dua wajah pendidikan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, madrasah memiliki kekuatan nilai religiusitas, akhlak, dan pembentukan karakter. Namun di sisi lain, masih terdapat praktik pembelajaran yang cenderung satu arah, berpusat pada guru, dan menekankan hafalan. Jika tidak disadari, pola ini sangat dekat dengan apa yang dikritik Freire sebagai “banking education”, di mana peserta didik diposisikan sebagai “wadah kosong” yang harus diisi.

Menurut saya, di sinilah relevansi pemikiran Freire menjadi sangat kuat. Madrasah sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pendidikan yang membebaskan. Nilai-nilai dalam pendidikan Islam, seperti keadilan (‘adl), musyawarah, dan penghargaan terhadap akal (‘aql). Selaras dengan gagasan Freire tentang dialog, kesadaran kritis, dan kemanusiaan. Artinya, pendekatan Freire bukan sesuatu yang asing, melainkan dapat dipadukan dengan ruh pendidikan Islam itu sendiri.

Namun, tantangan yang muncul adalah bagaimana mengubah paradigma pembelajaran. Banyak peserta didik madrasah berasal dari latar belakang masyarakat yang secara ekonomi dan sosial masih tergolong rentan. Jika pembelajaran hanya berfokus pada hafalan teks tanpa mengaitkan dengan realitas kehidupan mereka, maka pendidikan berisiko tidak menyentuh kebutuhan nyata peserta didik. Mereka mungkin memahami materi agama secara tekstual, tetapi belum tentu mampu menggunakannya untuk membaca dan merespons ketidakadilan sosial di sekitarnya.

Di sinilah konsep pendidikan dialogis ala Freire menjadi penting. Dalam pembelajaran di madrasah, guru dapat mulai mengajak peserta didik berdiskusi tentang isu-isu nyata: kemiskinan, keadilan, toleransi, dan kehidupan sosial. Misalnya, ketika mempelajari ajaran zakat atau sedekah, peserta didik tidak hanya diminta menghafal dalil, tetapi juga diajak memahami kondisi masyarakat sekitar dan berpikir tentang solusi konkret. Dengan cara ini, pendidikan agama tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi bergerak menuju kesadaran dan aksi.

Selain itu, saya berpendapat bahwa madrasah perlu memberi ruang lebih besar bagi peserta didik untuk bertanya dan berpendapat. Budaya belajar yang terlalu hierarkis sering kali membuat peserta didik pasif dan takut salah. Padahal, keberanian untuk bertanya adalah bagian penting dari kesadaran kritis yang ditekankan Freire. Guru tidak kehilangan wibawa ketika membuka ruang dialog, justru sebaliknya, guru menunjukkan peran sebagai pendidik yang memanusiakan.

Meski demikian, kita juga harus realistis bahwa perubahan ini tidak mudah. Sistem pendidikan masih menuntut pencapaian nilai akademik yang tinggi, sementara waktu pembelajaran terbatas. Namun, saya yakin perubahan tidak harus dimulai dari kebijakan besar. Langkah kecil di kelas, seperti mengubah metode ceramah menjadi diskusi, atau mengaitkan materi dengan kehidupan nyata, sudah menjadi awal dari pendidikan yang membebaskan.

Pada akhirnya, relevansi pemikiran Paulo Freire bagi madrasah terletak pada satu hal mendasar: pendidikan harus membangkitkan kesadaran, bukan sekadar menambah pengetahuan. Madrasah memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor pendidikan yang tidak hanya religius secara formal, tetapi juga kritis dan responsif terhadap realitas sosial. Jika ini terwujud, maka madrasah tidak hanya mencetak peserta didik yang taat, tetapi juga manusia yang peka, adil, dan mampu berkontribusi dalam perubahan sosial.

Dengan demikian, mengintegrasikan gagasan Freire dalam pendidikan madrasah bukanlah upaya mengubah identitas, melainkan memperkuat makna pendidikan itu sendiri, sebagai jalan menuju pembebasan dan kemanusiaan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top