Benah Rumah Guru Madrasah, Harlah ke-97 LP Ma’arif NU Hadirkan Khidmah yang Nyata

CILACAP_ Semangat Harlah ke-97 LP Ma’arif NU tidak hanya dirayakan melalui seremoni, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata. Di Desa Danasri Lor, Kecamatan Nusawungu, kepedulian kepada guru madrasah hadir melalui program Benah Rumah bagi Nur Wahidin, S.Pd.I., guru MI I’anatul Muslimin Danasri, Jumat (25/9/2026).

Program tersebut menjadi bagian dari rangkaian Harlah LP Ma’arif NU ke-97, sekaligus menjadi bukti bahwa khidmah kepada madrasah dan guru tidak berhenti pada kata-kata. Melalui kolaborasi berbagai pihak, rumah salah satu guru madrasah tersebut mendapatkan perhatian dan bantuan untuk dibenahi agar menjadi tempat tinggal yang lebih layak dan nyaman.

Pembiayaan kegiatan bersumber dari LAZISNU Cilacap dan UPZ Kementerian Agama Kabupaten Cilacap, dan LP Ma’arif NU PCNU Cilacap. Dukungan tersebut menjadi wujud kepedulian terhadap guru madrasah yang selama ini menjadi bagian penting dalam mencerdaskan dan membentuk karakter generasi penerus.

Kegiatan benah rumah dihadiri sejumlah unsur penting, di antaranya LAZISNU Cilacap, UPZ Kementerian Agama Kabupaten Cilacap, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cilacap, LP Ma’arif NU Kabupaten Cilacap, MWC NU Nusawungu, PRNU Danasri, FK2MI Kecamatan Nusawungu, Kepala KUA Kecamatan Nusawungu, serta perangkat Desa Danasri.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan kuatnya sinergi antara lembaga keagamaan, organisasi NU, madrasah, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadirkan kepedulian sosial.

Dari Harlah untuk Khidmah

Ketua LP Ma’arif NU Kabupaten Cilacap, H. Ali Sadikin, S.Ag., M.Pd.I., mengatakan bahwa benah rumah merupakan salah satu bentuk konkret dari semangat khidmah yang menjadi ruh perjuangan LP Ma’arif NU.
“Harlah bukan hanya tentang memperingati usia organisasi, tetapi bagaimana usia yang panjang itu melahirkan semakin banyak manfaat. Benah rumah ini adalah salah satu bentuk nyata kepedulian kita kepada guru madrasah,” ungkap H. Ali Sadikin.

Ia menegaskan, guru merupakan bagian penting dari perjalanan madrasah. Karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan dan kondisi kehidupan guru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memperkuat madrasah.

“Kita ingin membangun tradisi bahwa ketika ada keluarga madrasah yang membutuhkan, kita hadir bersama. Ada LAZISNU, UPZ, LP Ma’arif, NU, madrasah, pemerintah, dan masyarakat. Semuanya bergerak dalam semangat gotong royong dan kepedulian,” tambahnya.

Menurut H. Ali Sadikin, kolaborasi tersebut menjadi kekuatan penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga memperhatikan sisi kemanusiaan para pendidiknya.

Guru Mengabdi, Keluarga Besar Madrasah Peduli

Bagi Nur Wahidin, S.Pd.I., perhatian dan bantuan yang diberikan menjadi bentuk kepedulian yang sangat berarti. Sebagai guru MI I’anatul Muslimin Danasri, pengabdian di dunia pendidikan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya dalam mendampingi dan mendidik generasi muda.

Kegiatan benah rumah tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa guru tidak berjalan sendirian dalam menjalankan pengabdian. Di belakang guru terdapat keluarga besar madrasah, organisasi, lembaga filantropi, pemerintah, dan masyarakat yang dapat saling menguatkan.

Semangat itu pula yang ingin terus dibangun dalam momentum Harlah LP Ma’arif NU ke-97: menjadikan peringatan hari lahir bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum untuk memperluas manfaat dan memperkuat kepedulian.

Dari sebuah rumah di Danasri Lor, semangat itu menemukan bentuknya. Sebuah rumah dibenahi, tetapi yang sesungguhnya sedang dibangun adalah kepedulian, persaudaraan, dan tradisi khidmah.

Harlah ke-97 LP Ma’arif NU pun menemukan maknanya dalam kerja nyata: menguatkan guru, memuliakan pengabdian, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top