
Cilacap, 27 Januari 2026 — LP Ma’arif NU Cilacap menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Kurikulum Ke-NU-an & Branding Madrasah / Sekolah Berkeunggulan Global” pada Selasa pagi sampai Rabu sore (27-28/1). Kegiatan yang dilaksanakan di MTs Ma’arif NU 01 Kroya ini dihadiri puluhan kepala madrasah dan guru jenjang MTs/SMP, MA/SMA/SMK dari wilayah Cilacap.
Bimtek dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua PCNU Cilacap Bp. Kyai Fatkhudin, S.Pd., M.Pd. dan diawali dengan rangkaian acara keagamaan singkat serta menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Ma’arif.
Tujuan utama kegiatan ini adalah:
- Menguatkan pemahaman tentang karakteristik kurikulum berbasis Ke-NU-an yang relevan dengan nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemandirian pendidikan;
- Membekali kepala madrasah dan guru dengan strategi branding sekolah/madrasah agar mampu menunjukkan keunggulan dan daya saing pada level nasional maupun global;
- Mendorong kolaborasi antara LP Ma’arif NU, Kantor Kementerian Agama setempat, dan organisasi masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan madrasah.
Rangkaian sambutan disampaikan oleh Bp. Drs. Nurhuda, perwakilan dari LP Ma’arif NU Cilacap , Bp. H. Aryo Subroto, S.H., M.Pd., perwakilan Kantor Kementerian Agama Cilacap (Kasi Pendidikan Madrasah), serta Bp. Kyai Fatkhudin, S.Pd., M.Pd., perwakilan PCNU Cilacap dan Dr. Hj. Hidayatun, M.Pd., Wakil Ketua LP Ma’arif NU Jawa Tengah.
Pada sambutannya, Bp. Kyai Fatkhudin, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya transformasi kurikulum yang mengintegrasikan tradisi keilmuan NU dengan kompetensi abad ke-21, sekaligus membangun citra madrasah yang modern dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan pendidikan internasional.
“Bimtek ini diharapkan menjadi langkah konkret bagi penguatan identitas madrasah sebagai lembaga berbasis nilai-nilai ke-NU-an sekaligus meningkatkan kemampuan lembaga untuk bersaing secara global,” ujarnya.
Sambutan Wakil Ketua LP Ma’arif NU Jawa Tengah: “Kualitas > Kuantitas”
Wakil Ketua LP Ma’arif NU Jawa Tengah hadir memberikan sambutan yang menekankan bahwa dalam upaya branding madrasah, kualitas jauh lebih menentukan daripada kuantitas. Beliau mengingatkan bahwa pembangunan nama baik sebuah madrasah tidak cukup hanya dengan menambah jumlah siswa atau memperbanyak bangunan—yang terpenting adalah mutu layanan pendidikan, kompetensi guru, dan hasil pembelajaran yang nyata.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi materi teknis mengenai penyusunan kurikulum, strategi komunikasi dan branding lembaga, serta diskusi tanya-jawab yang melibatkan peserta aktif. Peserta tampak antusias dengan materi praktik tentang cara menyusun profil madrasah, pembuatan value proposition, dan pemanfaatan media untuk meningkatkan visibilitas lembaga.
Acara ditutup dengan doa bersama dan harapan agar materi yang diperoleh dapat segera diimplementasikan di madrasah masing-masing untuk meningkatkan mutu pendidikan serta memperkuat peran madrasah dalam pendidikan nasional. Penyelenggara berharap program ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat identitas madrasah berbasis nilai Ke-NU-an sekaligus meningkatkan daya saing lembaga secara berkelanjutan.
